oleh

Mengenal Anwar Sadad, Santri Politisi dari Pajampangan Sukabumi

-Kriminal-710 views

SUKABUMI – Lahir dan besar dalam lingkup serta pergaulan pondok pesantren menjadikan dirinya dikenal sebagai refresentasi kaum sarungan yang berhasil lolos di parlemen Sukabumi, dia adalah Anwar Sadad.

Anwar Sadad, S.Pd.I merupakan anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB). Pria yang lahir di tanah suci Mekah saat kedua orang tuanya beribadah haji itu terpilih mewakili masyarakat Daerah Pemilihan (Dapil) VI Kabupaten Sukabumi.

Alumni Ponpes Yaspida Kadudampit Sukabumi itu debut politiknya dimulai tahun 2008, dimana saat itu ia didorong oleh keluarga untuk mempersiapkan diri menjadi calon anggota legislatif pada Pemilu 2009.

Pada percobaan kontestasinya di Pemilu 2009, ia tidak langsung terpilih. Baru kemudian pada Pemilu 2014 ia berhasil lolos menuju kursi parlemen di Jajaway Palabuhanratu.

Alumni Ponpes Annidzom Salabintana itu kini sudah menjabat periode kedua di DPRD Kabupaten Sukabumi setelah kembali berhasil memenangkan dukungan masyarakat pada Pemilu 2019.

Sebagai santri yang jadi politisi, Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi itu menilai santri dan pesantren di Kabupaten Sukabumi harusnya dijadikan salah satu orientasi dalam kerangka menumbuhkan pembangunan daerah yang lebih maju.

“Sama halnya ketika pemerintah berpikir tentang pengembangan pariwisata untuk mendatangkan pengunjung, dan dari pengunjung itu muncul dampak pertumbuhan ekonomi. Maka membangun pondok pesantren juga sama, karena kemudian akan datang ribuan santri, dan tentunya secara tidak langsung akan mendongkrak perputaran uang disekitar pondok pesantren tersebut,” jelas alumni STAI Sukabumi itu, seperti dikutip Adhikaryacitra.com dari Podcast Catatan Wakil Rakyat, Selasa (8/8/2023).

Selanjutnya, Ia berharap dengan sudah ditetapkan Undang-undang tentang Pondok Pesantren beserta segenap aturan yang menjadi turunannya bisa menjadikan pemerintah lebih memperioritaskan pembangunan pesantren kedepannya.

Dukungan Keluarga

Anwar Sadad selalu teringat akan pesan gurunya di pondok pesantren tentang kesederhanaan dan akhlak dalam pergaulan. Nabi Ibrahim AS menurutnya menjadi salah satu figur yang harus ditauladani dalam pergaulan.

“Nabi Ibrahim tidak pernah membedakan siapapun  dari ummatnya untuk diajak makan bersama, bahkan jikapun ada perbedaan akidah tetap pergaulan sehari-hari harus baik. Hal itu dilakukan Nabi Ibrahim karena suatu waktu dirinya pernah ditegur oleh Allah SWT karena terbersit dalam benak Nabi Ibrahim untuk mengabaikan tamunya yang beragama Majusi,” tutur ayah dua anak itu.

Nah, terkait dukungan keluarga, kata Sadad awalnya memang ada kekagetan, karena menganggap ada prioritas lain selain keluarga. Namun kemudian hal itu tidak berlangsung lama, dan sekarang sudah beradaftasi dengan dunia politik dan kemasyarakatan.

Figur Idola

Santri dan politik, kata Anwar Sadad, merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Para santri dipesantren justru tidak asing dengan literatur-literatur politik dalam kitab kuning karya para ulama.

“Bagaimana mereka para santri sudah akrab dengan kitab yang mengurai tentang politik, Finasihatil Muluk karya Imam Ghazali misalnya,” tandas pengagum Gusdur itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed